Patung Debes dan Wagimin di Depan Pintu Masuk Taman Makam Pahlawan Pancaka Tirta, Tabanan

Sumber Foto : Ngurah Dibia

Kekalahan Jepang telah  tersebar hampir di seluruh Bali. Namun, Jepang merasa masih tetap berkuasa. Pada  13 Desember 1945, Gusti Wayan Debes dan pasukannya menyerang tangsi Jepang di Kota Tabanan, namun gagal.

Dalam usaha mengatasi masalah  persenjataan, pemimpin  perjuangan  I  Gusti Ngurah Rai berusaha mencari bantuan ke Jawa. Dgn  keberangkatan tsb, pimpinan perjuangan di Bali berada  di tangan Widjakusuma dan Wayan Debes.

Tgl  4 April 1946 Gusti Ngurah Rai, Wayan Debes serta staf lainya mengadakan perundingan mengenai langkah2 perjuangan selanjutnya dan dibentuklah DPRI (Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia) Sunda Kecil di Munduk Malang.

Pada 1 Juni 1946, diadakanlah long march ke Gunung Agung utk mengalihkan perhatian Belanda yg sdh berhasil mengusir Jepang agar ikut bergerak ke Timur, sehingga di Bali Barat penjagaan menjadi lemah, sehingga mempermudah pengiriman  senjata dari Jawa ke Bali.

Setelah diadakannya long march, pasukan  kemudian  dikumpulkan  kembali di Desa  Marga. Di Desa Marga Gusti Ngurah Rai dan Wayan Debes serta yg lainnya mengadakan perundingan utk  memperbanyak persenjataan.

Wayan Debes menyarankan utk melucuti senjata NICA yg berada di Kota Tabanan. Pada 18 November 1946 pemuda pejuang di bawah pimpinan Wayan Debes dgn  komandan Wagimin masuk ke tangsi NICA. Dgn rencana yg rapi, penyerangan ini berhasil tanpa adanya korban.

Pada 20 November 1946, Wayan Debes, Gusti Ngurah Rai dan seluruh pemuda  pejuang lainnya dikepung tentara NICA.

Dgn gempuran yg dilakukan oleh Belanda, dari udara maupun darat mengakibatkan Wayan  Debes dan seluruh  pasukan  Ciung Wanara gugur di medan pertempuran.

Untuk mengenang jasa2 Beliau Nama I Gusti Wayan Debes dipakai nama Jalan di depan TMP Pancaka Tirta dan Gor Debes di Gerokgak. Nama Wagimin juga dipakai nama jalan dan lapangan di Tabanan.


Sumber Artikel : Ngurah Dibia

Berita Terbaru Lainnya

Komentar