Pura Gede Pengastulan, Seririt, Buleleng

Sumber Foto : balipedia.id, Anggun Dwiutami

Pengastulan adalah salah satu desa nelayan di Kecamatan Seririt, Buleleng. Berdasarkan prasasti di atas daun lontar, Desa Pengastulan didirikan pada hari Rabu (Budha), Paing, wara landep, sasih kapat, tit tanggal paing 8, isaka warsa tahun 1381.

Sebelumnya, tersebut nama Desa Muntis yg merupakan cikal bakal tiga desa, yaitu Desa Pengastulan, Desa Bubunan dan Desa Sulanyah. Desa Muntis terletak di sebelah timur jalan besar, di sekitar pelemahan pura Kendal.

Orang2 dari luar banyak berdatangan baik sebagai pedagang dan bahkan ada juga yg terus menetap. Diantara pedagang yg datang, adapula orang2 Cina. Pedagang2 Cina juga Sering datang untuk memohon berkah dan keselamatanke sebuah batu besar. Karena permohonan mereka sering terkabul, maka di atas Batu besar itu dibangun “pelinggih” yg besar, yg kemudian menjadi sebuah Pura, dinamakan Pura Gede.

Pada waktu pembanguna pura tersebut, mengalir sumbangan2 diantaranya dari pedagang2 Cina. Hal ini terbukti banyak perabot2 Cina, piring, cangkir dll, terpasang menjadi hiasan tembok pelinggih Pura.

Penduduk Desa Muntis makin berkembang. Makin lama makin Padat. Untuk menanggulangi Kepadatan Penduduk, kerama desa dan kerama subak sepakat melakukan pemecahan desa. Alasan lainnya pemindahan penduduk itu ialah karena Desa Muntis berada di hulu (luwanan) Pura Gede yg keramat dan dianggap sering mendatangkan malapetaka.

Pada hari dewasa yg baik, yaitu hari Rabu Icaka 1381 atau tahun 1459, mulailah dilakukan perpindahan penduduk, diawali dgn perabasan hutan belukar. Mereka yg berprofesi sbg nelayan, mengungsi kearah utara kemudian membuatan perumahan disekitar Pura Gede. Karena pura tersebut merupakan tempat pemujaan atau pengastawaan, maka nama desa disebut Desa Pengastulan.

Sedangkan mereka yg mengungsi kearah selatan umumnya mereka memiliki tanah2 persawahan. Mereka mendirikan desa dengan nama Bubunan.

Khusus mengenai Desa Pengastulan, desa tersebut dibagi menjadi empat banjar yg sekarang disebut Banja Sari, Banjar Pala, Banjar Purwa dan Banjar Kauman.


Sumber Artikel : balipedia.id, Anggun Dwiutami

Berita Terbaru Lainnya

Komentar