Sesuhunan Ring Pura Penataran Agung Sekarmukti, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Badung

Sumber Foto : desa_pekraman_pangesahan

Sejarah Desa #Pangsan mengacu pada Prasasti dari Lempengan Tembaga (tersimpan pada Pura Penataran Agung Pangsan), berukuran panjang 41 cm, lebar 10 cm, nomor 4 (empat) pada pinggirnya yang bertuliskan huruf dan bahasa Jawa Kuno yang diperkirakan dibuat pada abad ke XII (dua belas). Prasasti ini dibaca pada tanggal 14 September 1974 oleh M. M. Sukarto K. Aimojo dari Kantor Cabang II Lembaga Purba Kala dan Peninggalan Nasional Gianyar.

Dari Prasasti Lempengan Tembaga tersebut diatas diperkirakan dibuat pada Abad ke XII pada Pemerintahan Raja Jaya Pangus pada Tahun 1811 M, yang berisikan tentang Paruman Nunung.

Paruman Nunung sebagai Upacara Kerajaan dihadiri oleh 8 (delapan) Senopati yang berkuasa di Bali pada Abad XII Masehi. Dan mungkin 8 (delapan) orang Senopati tersebut merupakan wakil dari 8 (delapan) Kabupaten yang ada di Bali.

Dua orang senopati yang hadir bersama Anusning Rat dan Toh Ujar. Paruman Nunung juga dihadiri oleh seorang juru bicara agama Budha bernama Tira wangsa, tiga orang penulis, dua orang Caksu, dari Karena Pura dan dari Karena kerata diantaranya bernama Sidhamukti.

Diantara Pendeta yang hadir pada Paruman Nunung adalah Empu Kuturan. Diperkirakan masalah yang dibahas pada Paruman Nunung adalah pembahasan pajak dan pemberian hadiah kepada Desa Paruman oleh Raja, dan pengesahan atas hasilnya disahkan di tempat ini (Desa Pangsan yang sekarang). Dengan bukti yang disimpan di Pura Penataran Agung Pangsan sekarang adalah lembaran kelima sebagai lembaran pengesahan Paruman Nunung.

Berdasarkan Sejarah Paruman Nunung tersebut tempat ini diberi nama “PANGSAN” yang  berasal dari:

1. Pengesahan (karena Pengesahan Paruman Nunung)

2. Depang San (biarkan sudah) selembar Prasasti Pengesahan (Lembar 5) tertinggal di tempat ini.


Sumber Artikel : desa_pekraman_pangesahan

Berita Terbaru Lainnya

Komentar