I Gde Darna

Oleh : sejarahbali | Dibaca : 1425Pengunjung

Sumber Foto :

Lewat Lagu Kita Pengaruhi Generasi Muda Bali
SOSOK I Gde Darna adalah seniman serba bisa. Dari sedikit jumlah pencipta lagu daerah Bali, ia termasuk seniman yang banyak memberi pengaruh pada wajah perkembangan lagu pop Bali kini. Tidak saja di dunia penciptaan lagu, ia juga banyak "berbicara" dalam perjalanan sastra Bali modern. Berikut wawancara Bali Post dengan I Gde Darna, seniman yang low profile itu.
 
BAGAIMANA ceritanya Anda bisa menggeluti lagu pop Bali?
Sejak kecil saya memang suka main musik, terutama biola. Lalu pada tahun 1950 saya menciptakan "Bendera Merah Putih" yang kemudian tanpa disangka menjadi terkenal hingga sekarang. Saya pikir embrio lagu pop Bali itu mulai tahun 1950, sejak saya menciptakan lagu "Bendera Merah Putih" itu. Lagu itu sederhana saja. Tak terikat pada aturan musik yang rumit dan bisa diiringi instrumen modern. Setelah lagu "Bendera Merah Putih", lalu hadir lagu "Dagang Tuak", akhir tahun 1950-an. Lalu awal tahun 1960-an lagu-lagu saya mengalir seperti air. Masalahnya, saat itu saya ikut-ikutan masuk partai. Sebagai ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), lembaga bentukan PNI saat itu, saya menciptakan lagu-lagu partai untuk membangkitkan semangat anggota partai. Dari situ lantas terus muncul lagu-lagu Bali lainnya. Itulah embrio lagu pop daerah.
 
Lalu setelah zaman partai pada Orde Lama berakhir?
Saya tetap mencipta lagu. Terutama ketika Pesta Kesenian Bali (PKB) mulai digelar di Denpasar. Dalam PKB itu ada sayembara penulisan lagu Bali. Saya dapat juara nomor satu sekaligus juga nomor dua. Setelah terima penghargaan, ternyata lagu-lagu saya itulah yang kemudian disebut sebagai lagu pop daerah Bali. Apalagi saat itu, sahabat sekaligus saingan saya sejak zaman Jepang, yakni Anak Agung Made Cakra, juga terus mencipta lagu. Saya kagum pada beliau. Beliau seorang seniman musik yang serba bisa. Akibat jasa-jasa Anak Agung Cakra, lagu pop daerah makin populer. Beliaulah yang mengawali memperkenalkan lagu pop Bali dengan mengkasetkannya.
 
Bagaimana proses Anda menciptakan lagu?
Dulu saya pegang biola. Dengan biola saya ciptakan notasinya. Tapi kini saya punya alat musik tradisional dari bambu dan perunggu. Saya selalu membuat lagu dengan alat itu. Dengan alat musik tradisional, lagu-lagu saya jadi lebih kental nada kebaliannya. Lagu-lagu populer sekarang ini, saya tak tahu apa diciptakan dengan alat seperti itu atau alat lainnya. Tapi mungkin lebih banyak dengan alat elektronik.
 
Anda sendiri saat itu tak ikut mengkasetkan lagu-lagu ciptaan sendiri?
Lagu-lagu saya juga ada yang direkam dalam kaset. Tapi tak banyak. Itu pun bukan dalam bentuk album sendirian, tapi campuran dengan pencipta lagu lainnya. Terutama dalam kaset lagu-lagu PKB, biasanya saya dan Anak Agung Cakra mendominasi.
 
Lirik lagu-lagu Anda dikenal dekat dengan semangat perjuangan dan semangat kecintaan pada tanah Dewata. Bagaimana ceritanya?
Saya ini seorang veteran. Sebagai veteran, saya merasa lebih semangat menulis lagu tentang perjuangan, seperti lagu "Pewaris Kemerdekaan", "Dirgahayu Indonesia", maupun lagu lain dalam bahasa Bali. Semangat heroik ini juga tercermin dalam kecintaan saya pada Bali. Maka lahirlah lagu "Bali Lestari", "Bali Dwipa", "Bali Sutrepti" dan lainnya. Harapan saya, anak muda Bali sekarang ini jangan mengecilkan tanah kelahirannya. Seperti dalam lagu "Bali Kembang Melati", saya sampaikan sebuah falsafah bagaimana menegakkan dan me-murti-kan taksu Bali. Janganlah Bali dijual terlalu murah. Dan saya percaya, lewat seni suara kita bisa mempengaruhi pola pikir generasi muda Bali agar tak lalai terhadap tanah kelahirannya.
 
Selain kepuasan batin, adakah kepuasan materi yang Anda dapatkan dari menciptakan lagu?
Tentu saja ada. Waktu PKB dulu, ketika saya selalu meraih juara. Saat itu sebagai seniman saya pikir hadiahnya cukup besar. Itu juga memuaskan saya. Tapi bukan itu tujuannya.
 
Tak berminat masuk dapur rekaman?
Begini, ya. Saya kesulitan menciptakan lagu pesanan. Saya memang beberapa kali pernah dipesan untuk bikin lagu. Seperti lagu "Bali Lestari", "Jayaprana", itu lagu pesanan. Tapi saya merasa tak puas. Begitulah pembawaan saya. Menciptakan sendiri dengan niat sendiri tentu rasanya lebih memuaskan. Barangkali karena lagu pesanan masih harus mencari-cari apa yang disenangi pemesan. Sikap ini kadang tak bisa diterima industri rekaman. Studio rekaman itu kan dagang, tentu apa yang disenangi konsumen itulah yang diproduksi. Maka yang dipesan adalah lagu-lagu yang disenangi konsumen. Namun seharusnya pemilik studio rekaman tak seperti itu. Selain mencari pasar juga harus meningkatkan apresiasi musik masyarakat Bali. Bukan cari untung saja, tapi juga mempunyai wawasan lebih luas. Kalau begini-begini saja, lama-lama lagu pop Bali bisa menurun terus dan mati.
 
Artinya Anda melihat lagu pop Bali sekarang sebagian besar merupakan pesanan dari pemilik studio?
Saya tak bilang seperti itu. Saya justru sangat bangga dengan munculnya seniman musik pop Bali yang muda dan mulai mengarah ke ajang profesional. Sedangkan saya mungkin hanya lebih senang menciptakan saja.
 
Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan musik dan lagu pop Bali sekarang ini?
Seperti saya katakan tadi, pemusik muda sekarang lebih profesional. Itu berdampak baik dari segi materi. Hikmah lainnya, populernya lagu Bali itu juga bagus bagi perkembangan bahasa. Misalnya bagaimana kita menyebarkan bahasa. Dulunya orang tak suka berbahasa Bali, tapi karena senang lagu Bali maka dengan sendirinya dia akan berbahasa Bali. Namun dari segi musik, seniman muda ini tampak masih mencari-cari diri. Padahal khasanah musikalisasi Bali itu kaya, tapi kenapa mereka harus menggapai-gapai khasanah musik lain, seperti Cina dan Jawa. Meski mirip, tapi di Bali sendiri cukup kaya dengan khasanah musik. Itu harus digali terus-menerus hingga menemukan inti dari musik Bali itu sendiri.
 
Menurut Anda, musik seperti apa nantinya bisa menjadi musik pop yang benar-benar khas Bali?
Saya rasa musik dan lagu pop Bali di PKB itu bisa menjadi masa depan musik dan lagu pop Bali. Sekarang memang, lagu-lagu itu belum mendapat sambutan masyarakat. Tapi pada saatnya nanti kualitas manusia akan bertambah. Tingkat apresiasinya akan semakin tinggi. Lagu-lagu seperti PKB itu nantinya akan bisa berkembang. Di sisi lain, masyarakat juga akan jemu dengan musik yang sangat ngepop. Tapi kendalanya, pengembangan lagu-lagu ala PKB itu memang salah satunya studio rekaman. Karena studio rekaman itu memang berdagang.
 
Apa tak ada niat memproduksi rekaman sendiri?
Saya bersama pemusik lain di Singaraja memproduksi musik pop Bali semacam itu, tapi ternyata tak laku. Padahal cara pemasaran cukup luas, melalui televisi. Tapi memang, sifat musik dan liriknya cukup sulit untuk dikonsumsi masyarakat awam. Tema lagu-lagu muda-mudi sekarang memang paling cepat populer, karena memang memenuhi selera pasar muda-mudi. Dari segi nada, cengkok suara, saya suka lagu-lagu yang dinyanyikan Widi Widiana dan Panji Kuning. Itu memang cengkok-cengkok khas Bali. Artinya mereka sudah menemukan sedikit, tapi secara keseluruhan kita masih mencari-cari.
 
* * *
 
SELAIN menekuni musik pop Bali, Anda juga dikenal sebagai sastrawan. Mana yang lebih memuaskan?
Dua-duanya disenangi, dua-duanya memuaskan. Saya sebenarnya lebih dulu menulis puisi. Pada tahun 1954 pernah jadi juara puisi bertemakan Ibu Kartini. Juara pertama se-Nusa Tenggara. Mungkin karena peserta sedikit, maka saya juara. Yang berkesan saat itu, ketika hendak menerima hadiah dari Gubernur saya kebingungan mencari celana panjang.
 
Kini tampaknya Anda lebih suka menulis puisi Bali modern?
Iya, memang. Tapi sebenarnya saya lebih dulu menulis puisi berbahasa Indonesia. Saya menulis puisi Bali modern sekitar tahun 1960-an. Pertama kali dimuat di Suluh Marhaen bersama-sama penyair lain di Denpasar seperti Yudha Panik, Made Sanggra dan lain-lainnya. Dulu saya juga menulis naskah drama berbahasa Bali. Latihannya di Lingkungan Bale Agung.
 
Komentar Anda soal sastra Bali modern saat ini?
Sangat menggembirakan, banyak penulis muda yang bagus, punya bakat luar biasa. Saya lihat sastra Bali modern mulai maju dan perkembangannya seimbang dengan sastra daerah lain, seperti Jawa dan Sunda. Sekarang juga banyak majalah yang menampung naskah-naskah sastra Bali modern, seperti Buratwangi di Karangasem, Canang Sari di Gianyar. Namun saya pikir tak perlu bikin majalah banyak-banyak, cukup dua atau tiga tapi kita bina bersama. Agar kualitasnya makin baik. Selain majalah, perlu juga sastra Bali modern ini dikembangkan lewat radio. Melalui media radio kegairahan berbahasa Bali juga makin meningkat.
 
Mengapa sastra Bali modern harus digiatkan, apa manfaatnya?
Sastra itu punya nilai tersendiri, berbeda dengan bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Selain itu, sastra, seperti juga lagu pop Bali, bisa mewarnai perkembangan bahasa daerah. Meski sastra sudah ada dalam tembang-tembang, geguritan dan sastra-sastra lama, tapi kini kehidupan masyarakat makin praktis dan modern. Maka sastra pun perlu dikembangkan dalam nuansa yang lebih modern.
 
Pengembangan sastra Bali modern lewat pendidikan bagaimana?
Iya, itulah. Dalam pendidikan bahasa Bali kita di sekolah, siswa hanya belajar membaca dan menulis. Bukan belajar sastra Bali secara khusus. Makanya kita harapkan instansi yang menangani masalah pendidikan peka dan ikut berjuang bersama seniman, bagaimana agar sastra Bali modern ini bisa masuk sekolah-sekolah. Misalnya dengan mengundang seniman untuk memberi apresiasi dan membaca karya-karyanya. Apalagi dalam zaman otonomi ini, pelajaran sastra Bali Modern juga perlu dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal. Dalam kurikulum itu, siswa tak hanya diajar membaca dan menulis Bali, tapi juga sastranya. Misalnya mengenal nama pengarang dan judul karangannya serta sekaligus mengapresiasinya. Dulu, pada zaman Nyoman Tusti Eddy (penyair dari Karangasem, red) masih kuliah di Singaraja, Ketut Suwija (penyair Buleleng, red) dan saya terus berdiskusi, bagaimana membuka peluang dan mengangkat puisi Bali modern.
 
Apa diperlukan penghargaan khusus untuk sastrawan Bali modern seperti yang dilakukan Ayip Rosidi dengan "Rancage"-nya?
Memang lahirnya sastra Bali modern masih baru, tapi perlu juga dipikirkan untuk memberi penghargaan khusus. Justru penghargaan selama ini datang dari Sunda dengan hadiah "Rancage". Kenapa Bali tak bisa? Kami para seniman tua ini sering mengatakan hal itu dalam seminar-seminar. Rencananya saya dan seniman lain akan menghadap Gubernur untuk membicarakan hal ini.
 
* * *
 
SEKARANG, apa saja kegiatan Anda?
Selain tetap membikin puisi, lagu, cerpen, saya sedang menyiapkan musikalisasi puisi Bali modern. Banyak puisi Bali modern akan saya gubah, seperti puisi Made Sanggra, Wiyat S Ardi, Tatukung dan puisi saya sendiri. Sekarang sedang bekerja sama dengan penabuh.
 
Apa bedanya mengarang lagu dengan membikin musikalisasi puisi?
Menulis lagu yang liriknya sudah ada dalam bentuk puisi memang lebih sulit. Saya mengalaminya. Bagaimana menyusun notasi yang cocok dengan jiwa puisi. Selain itu juga tetap mempertahankan jiwa Bali. Apalagi puisi yang dipilih nanti macam-macam, ada kritik sosial, romantis, perjuangan, puisi jenaka dan lain-lainnya. Rencananya memakai alat musik gabungan tradisional dan modern, tapi nadanya tetap berdasar pelog dan selendro.
 
Kegiatan lain?
Saya juga sedang menyiapkan lagu-lagu agama berbahasa Indonesia. Lagu-lagu ini dipengaruhi untaian-untaian kalimat dalam Weda, tapi masih kental nuansa kedaerahannya, pelog dan selendro. Saya akan segera kirim master lagu-lagu ini ke Departemen Agama. Kalau di tingkat nasional nanti, mungkin lagu ini bisa berkembang. Karena di dalamnya juga ada lagu-lagu popnya. Diciptakan sejak 1,5 tahun dan kini hampir rampung.
 
* Pewawancara:
Adnyana Ole
 
BIODATA
Nama : I Gde Darna
Tempat/TL : Sukasada, 27 Oktober 1931
Istri : Luh Telaga
Anak : Putu Oka Sastra, S.P.
Made Laksmi Darini, S.P.
Nyoman Oka Sri Derana, S.T.
 
Pendidikan:
SR Paket Agung, Buleleng (1944)
SMP Bhaktiayasa Singaraja (1953)
SMA Bagian C Singaraja (1955)
 
Pekerjaan:
- Pernah menjadi Pegawai Kantor Departemen Perdagangan Buleleng.
- Penasihat Listibiya Buleleng (sampai sekarang).
- Ketua Harian Museum Buleleng (2002-sekarang).
- Anggota DPRD Buleleng (1964-1965)
Karya-karya (di antaranya):
- "Kobarang Apine" (kumpulan naskah drama dan puisi, Buratwangi, 1990).
- "Perang Bali" (kumpulan puisi, Balai Bahasa, 1999).
- "Leak Mecelek" (kumpulan puisi, Balai Bahasa dan Buratwangi, 2001).
- "Sing Ade Ape De" (kumpulan cerpen, sedang dalam persiapan terbit).
 
Penghargaan:
1. Dharma Kusuma (1980)
2. Wija Kusuma (1981)
3. Rancage (2000)
 
RASTER
''Studio rekaman itu kan dagang, tentu apa yang disenangi konsumen itulah yang diproduksi. Maka yang dipesan adalah lagu-lagu yang disenangi konsumen. Namun seharusnya pemilik studio rekaman tak seperti itu. Selain mencari pasar juga harus meningkatkan apresiasi musik masyarakat Bali. Bukan cari untung saja, tapi juga mempunyai wawasan lebih luas. Kalau begini-begini saja, lama-lama lagu pop Bali bisa menurun terus dan mati''
 
---------------------- ''Dalam pendidikan bahasa Bali kita di sekolah, siswa hanya belajar membaca dan menulis. Bukan belajar sastra Bali secara khusus. Makanya kita harapkan instansi yang menangani masalah pendidikan peka dan ikut berjuang bersama seniman, bagaimana agar sastra Bali modern ini bisa masuk sekolah-sekolah. Misalnya dengan mengundang seniman untuk memberi apresiasi dan membaca karya-karyanya. Apalagi dalam zaman otonomi ini, pelajaran sastra Bali modern juga perlu dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal''
 
------------------ ''Pemusik muda sekarang lebih profesional. Itu berdampak baik dari segi materi. Hikmah lainnya, populernya lagu Bali itu juga bagus bagi perkembangan bahasa. Misalnya bagaimana kita menyebarkan bahasa. Dulunya orang tak suka berbahasa Bali, tapi karena senang lagu Bali maka dengan sendirinya dia akan berbahasa Bali. Namun dari segi musik, seniman muda ini tampak masih mencari-cari diri''

Sumber Artikel : http://www.balipost.co.id/