Kisah Asmara Dibalik Perang Puputan Badung 1906 (3)

Oleh : Beritabali.com | Dibaca : 2141Pengunjung

Sumber Foto : KITLV/Tentara KNIL berpose di depan pintu masuk Puri Kesiman, 1906

BAGIAN KETIGA
 
A.A. Ayu Oka memelihara kedua hubungan ini. Ia menghadapi kedua pemuda tersebut dengan sangat bijak, sehingga tidak terlihat adanya perubahan sikap dan baktinya terhadap orang tuanya, Baginda Raja. 
 
Terjadi persaingan antara remaja putra Denpasar dengan teruna Pemecutan, masing-masing menghimpun dukungan dan kekuatan di masyarakat pendukungnya, untuk memperebutkan seorang putri jelita dan mempertahankan kedudukan sebagai calon Raja Badung, yang telah ditugaskan menjalankan pemerintahan sehari-hari. 
 
Dengan semakin memuncaknya persaingan antara dua remaja ini, dalam menyusun kekuatan masing-masing, maka terjadilah, kilas balik masalah, yang harus dihadapi bersama-sama, sebagai Kerajaan yang berdaulat, dan disegani seluruh Bali. 
 
Kerajaan Badung sejak tahun 1813 diperintah bersama-sama oleh tiga pusat pemerintahan yaitu pucuk pimpinan Puri Pemecutan, Puri Denpasar, Puri Kesiman, yang ketiganya sangat kompak dan benar-benar bersatu, sebagai satu saudara dalam Pemerintahan Kerajaan Badung. 
 
Pada tanggal 27 Mei 1904 timbul masalah dengan terdampar dan kandasnya Kapal Sri Kumala di Pantai Sanur, dan Pemerintahan Belanda menuntut ganti rugi,atas kerugian kapal itu sebanyak 3000 ringit agar dibayar oleh Raja Badung. 
 
Laporan pertama diterima oleh I Gusti Ngurah Gede Kesiman, karena beliaulah Maha Patih dan Pemerintahan Badung yang banyak berhubungan dengan dunia luar. Berita ini kemudian dilaporkan kepada I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar sebagai pemegang pemerintahan harian, dan dilanjutkan kepada I Gusti Ngurah Agung Pemecutan sebagai Raja Lingsir, penglingsir karena sudah lingsir (sepuh) dan sudah sakit-sakitan. 
 
Terjadi pertemuan di Puri Agung Pemecutan antara ketiga penguasa yang mengambil keputusan bulat, tidak mau membayar ganti rugi tersebut, dan siap menanggung segala resiko serta akibatnya. Dengan pertimbangan harga diri, kebenaran dan kejujuran serta kedaulatan Kerajaan Badung. 
 
Dengan keputusan beliau bertiga, seperti sudah mendapat firasat perang, Raja lingsir Pemecutan sempat mengingatkan kepada ajaran-ajaran kepahlawanan dan berpegang teguh kepada motto : “Teguh Gumelenging wara satrya” (Teguh dalam pemutusan fikiran kepada dharma suci sebagai ksatrya). Beliau sempat menyitir beberapa ayat-ayat suci dari Buku Baghawad Gita sebagai berikut : 
 
a. Dengan mempersamakan suka dan duka, untung dan rugi menang dan kalah, siapkanlah dirimu untuk menghadapi perang itu, engkaulah terhindar dari dosa (perasaan bersalah).( B.G.II-38 ) 
 
b. Ahirnya bila engkau tidak berperang, sebagai mana kewajiban dan kehormatan, maka penderitaanlah yang engkau peroleh. ( B.G.II-33 ) 
 
c. Dengan kematian itu engkau memperoleh surga, atau kalau menang, engkau menikmati kebahagiaan dunia oleh karena itu bangkitlah Arjuna bulatkan tekad untuk berperang.( B.G.37 ) 
 
Marilah kita bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan datang. Demikianlah kebulatan tekad beliau bertiga akan menghadapi Belanda dan mempertahankan kedaulatan Kerajaan Badung. 
 
Demikianlah ultimatum Belanda pada tanggal 13 September 1906 ditolak dan pecahlah perang. Perang Puputan Badung tidak mungkin akan terjadi tanpa persetujuan keputusan bersama dan tanpa tekad dari ketiga Raja yaitu Raja Pemecutan, Raja Denpasar, Raja Kesiman. 
 
Pelangi cinta ketiga remaja, yang sedang diliput kabut asmara, menemui titik baliknya. Semua kekuatan yang disusun dan dibangun masin-masing untuk bersaing dalam cinta, akhirnya tumpah dan lembur menjadi satu aliran, dengan semangat menggelora menghadapi perlawanan dari luar, yakni penjajah Belanda. 
 
Diceritakan perang Puputan Badung 20 September 1906, sejak fajar pagi menyingsing di kaki langit Pantai Sanur, desa-desa Kesiman, Denpasar, Pemecutan sudah dihujani peluru-peluru meriam Belanda, yang menghancurkan dan membakar semua yang dikenai. Desa-desa, Puri-puri membara dan menyala-nyala, kabut asap memenuhi udara, suara meriam meggelegar, bumi sepertinya mau kiamat. 
 
Penyerangan Belanda sudah dimulai dengan menyerang Puri Kesiman pada tanggal 19 September 1906. Perlawanan rakyat Badung di Kesiman menunjukkan keberanian luar biasa dan Pasukan Belanda mendapat perlawanan sengit dari prajurit-prajurit Bali hanya senjata keris dan tombak. 
 
Puri Kesiman dapat diduduki dalam keadaan kosong karena Raja I Gusti Ngurah Gede Kesiman sudah meninggal tanggal 18 September 1906 karena terbunuh oleh seorang penghianat, yang tidak setuju dengan kebijaksanaan beliau berperang melawan Belanda. 
 
Setelah mendengar Puri Kesiman telah diduduki, maka Raja Denpasar I Gusti Ngrah Made Agung bersabda kepada semua kerabat yang berkumpul, bahwa besok tanggal 20 September 1906 akan berperang habis-habisan melawan Belanda, dan beliau tidak memaksa kepada semua kerabat dan rakyat untuk turut serta. Akan tetapi semua yang mendengar dengan serentak menyatakan akan turut serta membela Raja dan mempertahankan kedaulatan kerajaan Badung. 
 
Pada tanggal 20 September 1906, dari Kesiman Belanda mulai menyerang Puri Denpasar dari arah utara. Pasukan Badung langsung dibawah Pimpinan Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Agung, beserta pesemeton, tokoh-tokoh semua Puri-puri di Denpasar, Puri Belaluan, Puri Dangin, Puri Jero Kuta, Puri Anyar, Puri Jambe, Puri Oka, dan lain-lain, para pendeta dan rakyat, semua kerabat puri lainnya. Para Wanita dan anak-anak yang digendong, dengan bersenjata keris dan tombak mereka menyongsong musuh di daerah Taensiat. 
 
Pertempuran sengit dan korban berjatuhan di kedua belah pihak. Raja terus-menerus memberi komando dan membakar semangat pasukannya, mengamuk bagai singa kelaparan, namun akhirnya beliaupun tidak dapat menghindar dan wafat setelah terkena tembakan berkali-kali. Rakyat dan kerabat puri lainnya terus mengadakan perlawanan. 
 
Belanda melakukan penembakan dengan membabi buta ke arah pasukan Badung, para wanita dan anak-anak yang hanya bersenjata keris dan tombak, menimbulkan korban yang sangat memilukan dan menyedihkan. Karena persenjataan yang tidak seimbang amat banyak yang gugur sebagai pahlawan perang. 
 
Denpasar diduduki oleh Belanda pada pukul 11.30. Dengan wafatnya I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar, belum berarti bahwa negara Badung sudah jatuh dan kalah menjadi kekuasaan Belanda. 
 
Pertempuran yang sebenarnya barulah dimulai, dan perlawanan yang terjadi baru merupakan awal dari perang Puputan Badung. Kerajaan Badung masih tetap merdeka dan berdaulat di bawah kekuasaan Raja Pemecutan I Gusti Ngurah Agung Pemecutan. 
 
Pasukan Belanda pun menyadari dan mengakui keadaan ini, sehingga berpendapat bahwa untuk menguasai Kerajaan Badung mereka harus melanjutkan pertempuran menyerang Raja dan menduduki Puri Pemecutan. 
 
Siang hari pada hari itu juga, penyerbuan tentara Belanda dilanjutkan ke Pemecutan. Setibanya di desa Suci ( 500 m dari Puri ), mereka bersiap- siap dan mulai menembakkan meriam dan bedil dengan suara yang menggetarkan, dengan harapan, supaya pejuang-pejuang Pemecutan mau menyerah. 
 
Namun sebaliknyan mereka makin timbul keberanian, bagaikan lembu keratin menyerbu dan menyerang pasukan Belanda. Dengan sorak dan jeritan histeris, bagaikan laron yang merubung api lampu, mereka gugur satu persatu sebagai pahlawan perang. 
 
Setelah Raja Pemecutan mendengar bahwa Kesiman dan Denpasar kalah diduduki, serta pasukan Belanda sudah dekat di sebelah timur Puri, Beliau lalu memanggil Putrinya Anak Agung Ayu Oka dan bersabda : 
 
“Wahai anakku, buah hatiku, satu-satunya yang sangat ku sayangi dan kukasihi, kini tiba saatnya yang terakhir ayah dapat melihat anakku, menatap wajahmu. Sudahlah wajar bila diandaikan bunga, setelah mekar, maka layu akan mengikutinya dan akhirnya jatuh berguguran. Anakku, kamu akan ku tinggalkan mati, membela kebenaran, membela Negara.” 
 
Mendengar kata-kata ayahanda demikian, sang putri Puri Pemecutan tak kuasa berkata, tak dapat bicara, air mata mengalir karena kesedihan. Sambil menangis putri berkata: 
 
“Ampun Ayahanda, janganlah berkata demikian, jangn merasa kecewa, karena kita semua yang hidup ini telah ditentukan, lahir, muda terakhir dengan ketuaan akan tiba, dan akhirnya kematian juga yang akan menyudahi, Ananda memohon kehadapan ayahanda Raja, hendak dipertahankan turut berpuputan. Di sini dilahirkan, di sini hamba mendapat kebahagiaan, di sini pulalah harus mati bersama Ayahanda. 
 
Raja Pemecutan kembali bersabda: “ Aduhai, anakku mudah-mudahan di kemudian hari, kita dapat menjelma kembali bersama-sama, menikmati kebahagiaan, suka dan duka di dunia ini. 
 
"Marilah kita bersiap siap ke Medan Peperangan”. 
 
Semua yang mendengar pembicaraan itu bangkit serentak, dengan kemauan sendiri, hendak ikut ngiring ( turut serta ) berdasarkan kesucian hati, berpuputan bersama. 
 
Seluruh keluarga Puri keluar ke medan pertempuran, termasuk para wanita dan anak-anak, serta bayi-bayi juga digendong oleh para ibu, pengasuhnya, sedangkan Raja yang sudah tua dan sakit-sakitan, ditandu saat memimpin peperangan. 
 
(BERSAMBUNG)

Sumber Artikel : Beritabali.com