Kisah Asmara Dibalik Perang Puputan Badung 1906 (4)

Oleh : Beritabali.com | Dibaca : 1608Pengunjung

Sumber Foto : Monumen Puputan Badung

BAGIAN KEEMPAT
 
Seluruhan Laskar Pemecutan dipimpin oleh empat putra perkasa dari puri kanginan Pemecutan bersama Raja I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Putu berjuang bagaikan sedang mabuk, menyerang ke sana kemari, menantang musuh, menyeberangi kali Badung, menuju daerah Suci sebelah timur Pemecutan. Beliau juga sempat memerintahkan I Meruh Dari Desa Campuan Peguyangan dan I Pateh dari Banjar Busungyeh, untuk membakar ( bumi hangus ) Puri, apabila beliau-beliau Raja sudah meninggal, sehingga tidak dapat diduduki dan ditempati oleh serdadu Belanda. 
 
Diperintahkan juga kepada rakyatnya yang lain, agar membunuh ( ngeludin ) mereka yang mengerang kesakitan, jika terkena peluru Belanda, agar dia dapat meninggal dengan tenang. 
 
Demikianlah Ngurah Made dengan membabi buta, menyerang pasukan Belanda, hanya dengan sebilah keris, dengan keberanian luar biasa dan akhirnya gugur oleh berondongan senjata api musuh. 
 
Diceritakan pula pahlawan Gusti Ngurah Rai yang bagaikan singa kelaparan, berlari dan menerkam serta menghujamkan keris ke dada musuh, bergulat dan di keroyok serta ditembaki oleh tentara Belanda. Tak terhitung rakyat yang telah gugur, demikian pula di pihak Belanda. 
 
I Gusti Ngurah Ketut Bima, menghadang dan menyongsong musuh, dengan menyisir tembok rumah-rumah penduduk, di sebelah utara jalan, ke arah timur, menyeberangi sungai Badung dan kemudian siap di atas tembok rumah I Gambang ( di sebelah utara Pura Suci ), menanti pasukan berkuda dari perwira-perwira Belanda yang melintas. 
 
Begitu mendekat, dengan sigap Ngurah Bima meloncati tembok, melompati kuda, sambil langsung mencekik dan menikam musuh di atas kuda, namun beliau tertembak oleh pasukan musuh yang lain, sehingga gugur bersama Letnan Pieters yang dibunuhnya. Beberapa perwira Belanda juga sempat di bunuh pada waktu itu. 
 
Sementara itu, Raja Badung I Gusti Ngurah Agung Pemecutan, meskipun sudah tua dan sakit, dengan semangat penuh memberi komanda kepada rakyat pengiringnya. Dengan sorak sorai, jeritan histeris, mereka maju tak gentar, menantang musuh dengan hanya bersenjata keris dan tombak, dengan semangat dan keberanian luar biasa. 
 
Kaum wanita, tua dan muda, dewasa maupun anak-anak serta bayi-bayipun turut digendong oleh para ibu, ataupun pengasuhnya, turut ke medan peperangan mengikuti Raja berpuputan. Seluruh kerabat Puri, para istri-istri Raja anak-anak maupun bayi dibawa serta. 
 
Demikian mereka berduyun-duyun sambil bersorak menyongsong musuh, bagaikan lebah merubung nyala lampu, kemudian terbakar satu-persatu. 
 
Demikianlah mereka gugur berserakan ditembus peluru Belanda. Rajapun tidak dapat menghindar, tertembak jatuh, setelah pengusung tandunya meninggal terkena peluru. 
 
Raja dengan tenaga yang tersisa, sambil tertatih-tatih masih sempat mengadakan perlawanan dan akhirnya terjatuh dan wafat. 
 
Setelah wafatnya Raja, para pengiringnya semakin berani menantang musuh, agar dibunuh oleh Belanda, atau mereka saling menikam diri sendiri, atau orang-orang di dekatnya, sanak saudara, anak-anak atau istri, agar tidak ada seorangpun yang tertinggal dijadikan tahanan budak Belanda, mereka semuanya ikut 'ngiring' (ikut) berpuputan. 
 
Jeritan mereka yang kesakitan kena peluru, minta tolong supaya dibunuh, sangat memilukan hati Anak Agung Ayu Oka juga turut serta ke medan pertempuran, mengikuti ayahanda, dan seluruhnya keluarga Puri beserta kekasihnya I Gusti Nguah Ketut Bima yang memimpin Laskar Pemecutan. 
 
Demikian sengit dan hebatnya pertempuran di daerah Suci dan Pemecutan, suara meriam tiada hentinya. Puri terbakar peluru, dengan api yang berkobar-kobar dan asap memenuhi angkasa. Suara kentongan “ Kerik Tingkih “(kentongan puri masih ada di jalan Thamrin Denpasar ) bulus bertalu-talu,tiada henti-hentinya disertai suara dan gonggongan anjing yang meraung-raung sepanjang hari, benar-benar sangat mengerikan. 
 
Dalam kondisi seperti ini, Anak Angung Ayu Oka menyadari, bahwa Ayahandanya telah gugur, kekasih beliau Raja Denpasar sudah pulang mendahului, kini Ngurah Bima pun sebagai Pahlawan perang. Semua kerabat puri sudah meninggal, tidak adalagi yang ditunggu, kemudian dengan perasaan pilu dan sedih, menagis, pasrah lascarya, menyusul beliau-beliau itu dengan 'mesatnya' bunuh diri dengan sebilah keris, sebagai bakti kepada ayahanda,hormat kepada Raja, setia kepada kedua kekasih yang dicinta, setia kepada Negara dan rakyat, pantang menyerah kepada Belanda. 
 
Putri Puri pemecutan gugur di atas tumpukan jenazah ayahanda dan rakyat lainya. 
 
Kabut cinta, pelangi asmara, berakhir dengan diselimuti awan perang, ditutupi asap mesiu, dan diiringi dentuman suara meriam yang menggelegar. 
 
Kisah asmara remaja ini, bersudahan saat rahina sandikala atau senja hari, ketika sang surya mulai terbenam. Memang tragis dan memilukan. 
 
Demikian dua orang pemuda, ksatrya utama, dan seorang putri yang setia, bersama-sama gugur dalam peperangan, sebagai pahlawan, kusuma bangsa, melawan penjajah, dengan mengobankan cintanya masing-masing demi mempertahankan harga diri, kebenaran dan kedelautan Negara dan bangsa. 
 
Dengan wafatnya Raja Badung I Gusti Ngurah Agung Pemecutan, berahirlah peperangan dengan arti kata “puput” berarti selesai dan “puputan” bermakna habis-habisan sehingga boleh diartikan bahwa “Perang Puputan Badung” itu berakhir di Desa Pemecutan. 
 
Dengan kekalahan itu barulah Belanda dapat dikatakan menguasai seluruh Kerajaan Badung. 
 
Suara Meriam mulai meredam dan berakhir, berakhirlah pula perang Puputan Badung, pada saat hari sandikala tanggal 20 September 1906. 
 
Demikianlah sandikalaning jagat Badung, bandana pralaya, hancur dan kalahnya Kerajaan Badung. 
 
Sementara itu desa-desa dan Puri-puri masih terbakar, api masih berkobar, asap memenuhi angkasa, langit dan awan berwarna merah merata, menandakan sang surya telah sudah turun ke barat, matahari mulai terbenam. 
 
Sebagai kilas tambahan informasi diceritakan oleh Jero Tunjung atau Jero Wayan (kepada penulis) sebagai seorang janda almarhum Gusti Ngurah Rai, yang turut serta ke medan perang menggendong anak bayinya pada saat itu. 
 
Karena kasihan kepada si kecil, bersembunyi di pangkal akar-akar pohon beringin besar, di luar puri. Setelah peperangan berakhir, anaknya dilarikan ke desa asalnya, di desa Munggu, dan untuk beberapa lama dipelihara disana. 
 
Anak I Gusti Ngurah Rai yang lain, dari lain Ibu, digendong oleh pengasuhnya, turut mengikuti Raja, ke medan laga dan pengasuhnya tertembak dan meninggal, dan si kecil jatuh di tumpumukan jenazah lainya. 
 
Setelah perang berakhir, seorang Brahmana dari Gria Bindu Denpasar Ida Putu Grodog mencari-cari jenazah yang dikenali, tiba-tiba melihat dan mendengar bayi menangis tersedu-sedu diantara mayat keluarga puri yang bergelimpangan lalu memungutnya, diselamatkan dibawa ke Gria Bindu dan beberapa lama dipelihara disana. 
 
Kedua bayi laki-laki tersebut adalah Anak dari I Gusti Ngurah Rai, dari dua istri umur 4 dan 2 tahun. Sedangkan I Gusti Ngurah Made meninggalkan seorang Putri terselamatkan berumur sekitar 3 tahun. Ketiga anak kecil ini setelah situasi aman sempat dipelihara di Munggu, Gria Bindu, Jero Gerenceng dan Jero Batan Moening. 
 
Setelah anak-anak ini menjelang dewasa, di bangunkan Puri Kangin Pemecutan yang sebelumnya hancur total dalam perang Puputan Badung. 
 
Setelah anak-anak ini dewasa ketiganya diangkat sebagai kepala keluarga besar Pemecutan. Yang paling kecil (beribu dari Jero Gerenceng), setelah upacara “Mebiseka Ratu” diberi Gelar Ida Cokorda Pemecutan X. 
 
Yang beribu dari Munggu (Jero Tunjung) diberi Gelar Anak Agung Gede Lanang Pemecutan, sedangkan Putri dikawinkan dengan Cokorda Pemecutan X tetapi tidak berputra, beliaulah berdua melanjutkan keturunan dinasti Puri Pemecutan sekarang. 
 
Puri Kanginan setelah ditempati oleh anak-anak bertiga, disebut dengan nama Jero Gede Pemecutan, dan setelah beliau dinobatkan dengan upacara “Mabiseka Ratu” dengan Gelar Cokorda Ngurah Gede Pemecutan, maka Jero Gede Pemecutan Kembali disebut “ Puri Agung Pemecutan “. 
 
Semua serdadu dan perwira-perwira Belanda yang meninggal dalam Perang Puputan Badung dikuburkan di kuburan Belanda di jalan Diponogoro Denpasar, kemudian dipindah di Desa Mumbul, Nusa Dua, termasuk kuburan Pieter yang dibunuh oleh I Gusti Ngurah Ketut Bima. 
 
Perang Puputan Badung tanggal 20 September 1906 adalah wujud nyata dari pada kekompakan rakyat Badung di bawah pimpinan tiga orang rajanya yang juga kompak bersatu dalam menghadapi pasukan Belanda dari bumi Badung. 
 
Ketiga Raja itu yaitu Raja Pemecutan I Gusti Ngurah Agung Pemecutan (nama beliau yang lain I Gusti Ngurah Agung Pemecutan, Kiyayi Anglurah Pemecutan IX). Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Agung dan Raja Kesiman I Gusti Ngurah Gede Kesiman. 
 
Beliau juga mendapat sebutan Gusti Gede Ngurah Pemecutan, Gusti Gede Ngurah Denpasar dan Gusti Gede Ngurah Kesiman, juga dengan gelar Cokorda Pemecutan, Cokorda Denpasar dan setelah beliau meninggal, keduanya disebut dengan Cokorda Mantuk Ring Rana (meninggal dalam peperangan). (HABIS)

Sumber Artikel : Beritabali.com