Lembah Merdeka, upacara pengibaran Merah Putih pertama di Bali dilakukan

Oleh : Historia & Balipost | Dibaca : 1586Pengunjung

Sumber Foto : Tempat upacara pengibaran Merah-Putih pertama di desa Gelar, Bali, pada 18 April 1946. Foto: Wenri Wanhar/Historia

Bukit Gelar, Banjar Palungan Batu, Desa Batuagung, Jembrana merupakan lembah di mana terdapat sungai dan jembatan gantung yang menghubungkannya. Dengan air sungai yang bersih dan dingin, batu gunung yang besar-besar, pepohonan rindang dan hutannya masih lestari diyakini menjadi daya tarik pengunjung.
 
Selain itu, di kawasan ini dahulu juga merupakan markas para pejuang dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia yang disebut Lembah Merdeka. Pada tahun 1946, Gelar merupakan Markas Besar Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (MB-DPRI) Jembrana yang dipimpin oleh Ida Bagus Gde Dosther dan pemimpin pasukan ''M'', Kapten Markadi menjadi Wakil Ketua. MB DPRI dulu dibentuk sebagai satu badan yang mengorganisasikan segala kegiatan perlawanan terhadap pejajah Belanda di Jembrana. 
 
Pada April 1946, pasukan dari Jawa yang dipimpin Kapten Laut Markadi datang dan menyerang konvoi-konvoi Belanda. Bersama pejuang Bali, Pasukan Markadi lalu mendirikan markas di Peh Manistutu, Jembrana. Karena tercium Belanda, mereka memindahkan markas ke desa Gelar di utara Palungan Batu pada 17 April 1946.
 
Secara geografis, Gelar laksana cerukan panci; lembah dikitari bukit. Di beberapa bukit ada goa-goa perlindungan. Gelar ideal untuk taktik perang gerilya. Menurut I Gusti Putu Dwinda, ketua Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) Jembrana, daerah ini bagus. Udaranya sejuk dan dikelilingi aliran sungai dengan air yang jernih. “Setelah ditinjau oleh Markadi, desa Gelar akhirnya dijadikan markas dengan membangun beberapa barak, dengan bantuan penduduk setempat,” kata Dwinda dalam Orang-orang di Sekitar Pak Rai karya I Wayan Windia.
 
Ida Bagus Doster, wakil ketua BPRI yang kelak menjabat bupati Jembrana pertama, memerintahkan pasukannya untuk meratakan tanah di depan barak. “Setelah rata, di tengah-tengah dipancang sebuah tiang dari bambu,” kenang Doster, 85 tahun, kepada Historia.
 
Esok harinya, 18 April, semua pasukan berkumpul dan mengelilingi tiang bambu. Pagi itu, upacara pengibaran bendera Merah-Putih untuk kali pertama dilaksanakan di Bali. Dua pemuda menggeret bendera Merah-Putih diiringi lagu Indonesia Raya. “Saya terharu dan mencucurkan air mata saat itu. Saya kira kawan-kawan yang lain juga begitu. Usai upacara, Kapten Laut Markadi menamakan Gelar sebagai Lembah Merdeka,” ujar Doster.
 
Hal yang sama dialami Dwinda.
 
“Di sini pula Kapten Markadi mengadakan rasionalisasi pasukan, memilih anggota pasukan yang bersenjata