Maestro Lukis I Gusti Nyoman Lempad

Oleh : tamanismailmarzuki.co.id | Dibaca : 1326Pengunjung

Sumber Foto : baliluwih/Anna Gaspar et. al/I Gusti Nyoman Lempad dengan anaknya I Gusti Made Sumung dan keluarganya, 1930an.

Tidak susah mencari kediaman pelukis I Gusti Nyoman Lempad. Anda hanya berjalan sepanjang 500 m ke arah Timur Puri Ubud dan akan melihat papan tandanya. Siapapun yang anda tanya, pastilah tahu di mana rumahnya. Ia telah menjadi bagian dari seni lukis Bali. Ia adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering untuk generasi seni berikut. Sejarah dan pengembangan seni lukis Bali tidak bisa dipisahkan darinya.
 
Tidak diketahui dengan pasti kapan ia dilahirkan, tetapi banyak sumber mengatakan anak ketiga dari empat bersaudara ini dilahirkan tahun 1862, dan telah menikah ketika gunung Krakatau meletus ditahun 1883. Menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 April 1978, diusia 116 tahun.
 
Ia tidak bisa membaca, karena ia tidak berekolah secara formal, namun ia bisa menulis namanya di atas lukisannya dengan hanya mencontoh. Walaupun bapaknya adalah seorang pengukir, namun ia tidak memiliki ketrampilan ayahnya. Tetapi dari seorang Brahmin yang hidup di Puri, ia mendapatkan kemampuannnya. Brahmin ini menguasai berbagai bidang, seperti ; perancang bangunan, pemahat, pelukis dan ahli dalam peraturan adat. Darinya ia belajar segalanya tentang tarian, agama dan masyarakat.
 
Ketika berusia 40 tahun, ia membantu Walter Spies membangun rumahnya di Campuhan, Ubud. Suatu ketika, Spies melihat coretan lukisannya diatas secarik kertas, ia lalu mengagumi dan membayarnya dengan kemeja, kain dll. Ia lalu menasehatnya untuk terus melukis apapun yang ada dikepalanya dan tetap fokus pada gaya melukisnya  Menurutnya bertemu dengan Spies adalah suatu karunia, sebab ia telah diajari teknik melukis
 
Ia akhirnya berkonsentrasi pada lukisan wayang, dengan mengambil tema Ramayana dan Mahabharata. Gayanya yang mengesankan mudah untuk ingat, seperti memahat gaya Tjokot. Ia selalu menggunakan cat hitam di atas kertas putih yang menghasilkan bentuk yang bagus, gaib dan kuat dan nampak tak terputuskan. Banyak orang yang ridak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Lempad ketika ia menorehkan kuas diatas kertas.
 
Sepanjang hidupnya ia tidak pernah jauh dari kayu, kertas, pensil atau tinta Cina. Salah satu aspek yang menarik dari pekerjaannya adalah ketidak-sempurnaan. Ia menyenangi semua dari pekerjaannya yang belum selesai, karena dari sana ia dapat menyempurnakan menurut inspirasinya.
 
Meskipun alat yang digunakannya untuk melukis sangat sederhana. Tetapi dari sanalah kita dapat melihat kekuatan garis dan ketelitian. Ia jarang menonjolkan warna, kecuali untuk memperkenalkan aksen atau untuk memperkuat corak tertentu. Ia bekerja menurut tema Jayaprana dan Dukuh Suladri, sebagai contoh.
 
 
Ia juga aktif dalam pembentukan Pita Maha, suatu organisasi seni yang didirikan oleh Tjokorde Gde Agung Sukawati, Walter Spies, dan Rudolf Bonnet di tahun 1935. Organisasi ini telah dipimpin oleh Spies dan sejumlah seniman Bali sampai tahun 1950-an. Pita Maha memperkenalkan gaya lukisan barat kepada seniman muda Bali dan memperkenalkan karya mereka kepada pengunjung dari luar negeri. Melauli pameran didalam maupun diluar negeri.
 
Ciri khasnya dengan jelas terlihat dalam setiap dari karyanya walaupun sederhana namun mengandung suatu identitas unik. Karya-karyanya mempengaruhi para pelukis asal bali sampai hari ini.  Tidak ada seorangpun yang mampu menirunya kecuali cucu lelaki nya Gusti Nyoman Sudara, seorang guru SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) di  Ubud,  di mana ia mengajar Studi Bali klasik.
 
Mendapatkan penghargaan dari pemerintah RI pada HUT RI ke-25, berupa medali emas dan uang Rp. 100.000,-  yang berikan kepada cucunya untuk membeli sepeda motor. Penghargaan lain adalah Hadiah Udayana [(1975), dan penghargaan Dharma Kusuma (1982). Ia beserta karya-karyanya juga didokumentasikan dalam film oleh Lome Blair dan Yohanes Darling yang bekerja sama dengan televisi Australia. Film Dokumenternya itu menerima penghargaan sebagai film dokumenter  terbaik dalam festival film Asia yang ke-26 di Yogyakarta (1980). Sementara itu Sanggar Dewata Indonesia menamakan penghargaannnya dengan nama Lempad Prize, yang diberikan kepada seseorang yang concern atas kesenian Bali.
 
Karya lukisannya dapat kita lihat dirumahnya, Puri Ubud, Neka Musium Ubud, Pusat Seni Denpasar, Tropen Musium (Amsterdam), Rijkmuseum voor Volkenkunde (Leiden), Musium fur Volkenkunda Basel (Jerman).

Sumber Artikel : tamanismailmarzuki.co.id