Luruskan Sejarah Bali dan Nusantara dengan Metode Ikonografi

Oleh : Sejarahbali.com | Dibaca : 1376Pengunjung

Sumber Foto : SejarahBali.com

Misteri tentang tokoh Gajah Mada, tokoh pemersatu Nusantara dari Kerajaan Majapahit hingga saat ini masih menjadi kontroversi. Seorang pemuda Bali, Iwan Pranajaya, mencoba mengungkap misteri tersebut lewat buku "Geger Nusantara; Terungkapnya Misteri Gajah Mada dan Terbentuknya Nusantara". 
 
Buku Geger Nusantara ini banyak memuat hal-hal berkaitan dengan sejarah Gajah Mada dan Majapahit yang selama ini belum pernah diungkap. Bebebapa hal yang diungkapkan dalam buku membuat kita tercengang, karena sangat berbeda dengan pelajaran sejarah yang didapat di sekolah selama ini. Salah satunya menjelaskan tentang hubungan antara tokoh Udayana dengan Gajah Mada.
 
Sejarah Bali (SB) berkesempatan mewawancarai Iwan Pranajaya (IP) yang juga merupakan Ketua forum Surya Majapahit, di Kesambi, Kerobokan, Badung, Rabu (17/6/2015). Berikut hasil wawancaranya. 
 
SB : Bisa dijelaskan tentang buku Geger Nusantara yang anda susun ini? 
 
IP : Buku ini dibuat berdasarkan fakta-fakta atau temuan di lapangan. Buku ini mengungkap kebenaran fakta sejarah lewat pembacaan perlambang yang ada pada arca-arca penunjang dan tempat suci sebagai acuan.
 
SB : Bagaimana proses penyusunan buku ini ?
 
IP : Prosesnya lumayan lama, beberapa tahun, dengan mengumpulkan banyak data dan temuan, sesuai metodologi yang kami gunakan, kami menemukan banyak hal pada peninggalan milik leluhur dan raja-raja tempo dulu, banyak temukan sejarah di pura sesuai karakteristik raja jaman dulu.
 
SB : Bagaimana latar belakang penyusunan buku ini ?
 
IP : Awalnya saya menemukan candi di wilayah Bali utara. Di sana saya temuka ada fakta bolak-balik, perlambang bolak balik, saya juga temukan ada banyak stempel di candi, stempel unik, ada stempel bolak-balik yang jumlahnya puluhan, ada tempat balai prabu yang menyatakan cara ukir dan pendirian bolak balik. Hasil temuan-temuan tersebut kemudian digabungkan dan kemudian muncul sinkronisasi data di Bali, baik itu di situs Gunung Kawi, Tirta Empul, Goa Gajah, kita temukan cara membacanya lalu terungkaplah sejarah yang sesungguhnya.
 
SB : Kenapa memilih metodologi penelitian pembacaan perlambang ?
 
IP : Pembacaan perlambang atau ikonografi merupakan sebuah cara yang jitu dan jujur, tidak mudah dipelintir, sesuai dengan fakta dan data di lapangan. Perlambang itu merupakan satu kesatuan, ciri daripada para raja-raja. Contoh ketika raja Udayana punya banyak perlambang atau simbol dalam peninggalannya di Bali dan Nusantara. Perlambang ini  terkait dengan perlambang yang ada pada peninggalan Gajah Mada, sehingga saya bisa bilang itu adalah satu kesatuan.
 
SB : Dalam buku ini kita temukan banyak hal-hal baru yang berlawanan dengan sejarah yang kita ketahui selama ini. Bagaimana menurut anda? 
 
IP : Selama ini referensi dari penulisan sejarah di Bali dan Nusantara lebih banyak memakai sumber lontar yang faktanya lemah, sehingga saya kemudian menggunakan data-data yang lebih akurat, agar mudah kita temukan realitas sejarah tradisi budaya Bali dan Nusantara.
 
SB : Buku Geger Nusantara ini nanti pasti akan menimbulkan kontroversi, bagaimana anda mengantisipasinya? 
 
IP : Kontroversi pasti akan terjadi. Contoh ketika saya mementahkan temuan sejarah yang menggunakan referensi lontar. Lontar itu sumber referensi yang mudah dipalsukan, sangat lemah ketika tidak ada bukti fakta berdiri. Kontroversi akan saya mentahkan saat acara bedah buku di Unud nanti, dengan membuka cara membaca perlambang di seluruh tempat di Bali. Di seluruh Bali tidak pernah ungkapkan angka tahun, lontar yang menggunakan acuan angka tahun akan lemah karena mudah dipalsu atau dipelintir. Lontar tersebut sejatinya salinan dari tempat suci, kalau ada lontar yang mengisahkan itu merupakan bukti pendukung. Leluhur kita di Bali dulu hanya mengenal Sapta Wara, Panca Wara dan Wuku, tidak ada tanggal atau tahun.
 
SB : Tujuan atau hal penting apa yang ingin disampaikan dari penyusunan buku ini?
 
IP : Tujuan terpenting yang ingin saya sampaikan adalah selamatkan situs-situs sejarah yang ada, selamatkan struktur sejarah, tatanan masyarakat Bali, terhadap guncangan-guncangan pengakuan yang tidak bertanggung-jawab dan bukti yang lemah. Hindarkan kekacauan sejarah yang terjadi di Nusantara selama ini. Bahwa kita sebenarnya satu, tidak ada perbedaan. Selamatkan situs bangsa, karena itu merupakan data besar kita untuk selamatkan sebuah bangsa.

Sumber Artikel : Sejarahbali.com