Barong Landung, 1910.

Oleh : Sejarah Bali | Dibaca : 592Pengunjung

Sumber Foto : Instagram Sejarah Bali

Jro Gde:
Delod Tunduh Abian Semal
Mula kunyit di sempidi
Mapunduh paturu lengar
Mara ngajengit tusing magigi
 
Jro Luh:
Ngempug kuud caratan diwang
Meli bulih tuah ji talen
Beli suud nyaratang tiang
Kemu alih suba elenan
 
Penggalan gending bebarongan tersebut biasa dinyanyikan oleh dua pemundut Barong Landung saat ngelawang berkeliling desa.
 
Barong Landung adalah pralingga, sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Bahkan di banyak tempat, Barong Landung dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu
 
Barong Landung merupakan salah satu kepercayaan masyarakat #Bali yang berbentuk mahluk yang sangat tinggi dan besar. Perwujudan ini merupakan hasil dari personifikasi Raja Jaya Pangus dan Permaisurinya yaitu Kang Cing Wei yang berasal dari Cina, Setelah melalui berbagai cobaan, oleh rakyat yang memujanya, pasangan raja dan ratu tersebut dipersonifikasikan sebagai Barong Landung untuk meghormati Beliau berdua.
 
Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Sumber Artikel : SejarahBali.com