Sejarah Pura Gede Perancak

Oleh : Dwitya & Amelia | Dibaca : 98Pengunjung

Sumber Foto : http://www.lorinbali.com

Lokasi Pura Perancak terletak di Desa Perancak Kecamatan Negara.Pura menghadap ke arah Barat dengan panorama sungai Purancak yang panjang dan lebar merupakan daya tarik yang kuat.Air sungai sangat tenang seperti kolam, dan di seberang sungai tampak perladangan yang ditumbuhi pohon-pohon pantai yang berjajar. Pengembon Pura Dang Kahyangan Gede Perancak ini yang terdiri atas lima desa yakni : Perancak, Yeh Kuning, Sangkaragung, Budeng, dan Dangin Tukadaya. Setiap enam bulan sekali saat piodalan yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia ke lima desa ini secara bergantian melakukan piodalan.
 
Mengenai kisah perjalanan Danghyang Nirartha hingga tiba di perangcak, lebih jelas lontar dharma yatra. Dahyang Nirartha ada menyebutkan, setelah beberaa tahun bermukim di Blambangan, terjadi perselisihan, kesalahpahaman antara Crijuru (Raja Blambangan) dengan Danghyang Nirartha dan menuduh sang maha rsi memakai guna-gua. Tuduhann ini timbul akibat bau keringat Danghyang Nirartha selalu harum seperti minya bunga mawar sehingga setiap orang yang duduk berdekatan dengannya turut berbau harum, sekalipun tanpa menggunakan minyak wangi.
 
Pancaran suci dan charisma Danghyang Nirartha ternyata membuat seorang adik dari Raja Blambangan jatuh cinta pada rohaniwan ini. Sebelum persoalan melebar terlalu jauh persoalan terjadi sekaligus menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Danghyang Nirartha dengan mengajak istri dan 7 putra putrinya kemudian memilih berkemas-kemas hendak meninggalkan istana Blambangan dan menyebrang ke pulau Bali.
 
Pada suatu hari pada sekitar tahun icaka 14 atau tahun 1478 M menyebranglah Danghyang Nirartha bersama sang istri Sri Ratna Patni Keniten dan putra putrinya dengan melalui Segara Rupek (Selat Bali). Tiba di pantai Blambangan atas bantuan seorang nelayan , beliau diberi meminjam perahu (jukung) yang kondisinya sudah agak rusak (bocor). Jukung yang dimaksud akhirnya diberikan kepada istri dan putra-putrinya.Mengakali agar tak bocor, maka jukung ditutup dengan daun labu pahit pemberian dari warga Desa Menjaga.
 
Danghyang Nirartha sendiri memilih menyebrang lewat jalur lain menggunakan buah labu pahit yang isinya telah dibuang habis serta memakai tangan dan kakinya sebagai dayung dan kemudi. Tidak dikisahkan dalam pelayaran ini Danghyang Nirartha dengan selamat tanpa suatu halangan tiba di pantai Barat pulau Bali, dan ini adalah berkat bantuan labu pahit serta sudah kehendak Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Pada masih di tengah lautan Danghyang Nirartha berjanji bahwa seumur hidup beliau tidak akan mengganggu hidup waluh (labu) pahit apalagi memakannya, dan hal ini harus diikuti oleh para keturunannya.
 
Oleh karena Danghyang Nirartha lebih dulu sampai ke pulau Bali ini, sambil menunggu istri bersama putera putrinya, maka beliau berteduh dibawah pohon ancak.Setelah istri bersama putera putrinyatiba, maka beliau beristirahat beberapa hari.Di Jembrana kala itu berkuasa seorang Anglurah bernama I Gusti Ngurah Rangsasa.Anglurah ini mengemong sebuah pura bernama Pura Usang.Sekalipun sudah ada Anglurah, ternyata kehidupan masyarakat di sini bersifat “uraga pati”.Mereka masih dalam kegelapan, sukar mengendalikan hawa nafsu dan rendah budi pekertinya. Melihat kenyataan seperti itu, maka sang maharsi memberikan petuah serta pemahaman akan arti kebajikan. Maka banyaklah dating warga yang hendak mendapatkan pencerahan tentang ajaran agama.
 
Mendengar ada berita maharsi memberikan pencerahan ajaran agama, Anglurah Rangsasa hatinya tergugah.Suatu hari dia mendatangi Danghyang Nirartha untuk diajak sembahyang di Pura Usang.Rohaniwan ini tak hendak menolak, datanglah beliau ke Pura milik I Gusti Ngurah Rangsasa dan hendak menghanturkan sembah.Baru saja Danghyang Nirartha mengatupkan tangan hendak mulai sembahyang, pura ini ternyata pecah. Pecahnya Pura Usang sebagai tanda kekalahan I Gusti Ngurah Rangsasa dalam berdiskusi dengan sang maharsi. Anglurah ini akhirnya mohonn pamit dan memilih melanjutkan perjalanan hidup sebagai pertapa.
 
Sepeninggalan I Gusti Ngurah Rangsasa sekaligus untuk menghormati jasa-jasa Anglurah ini selama berkuasa, maka masyarakat setempat membangun tempat suci diberi nama Pura Ratu Gede Rangsasa. Pasca sepeninggalan I Gusti Ngurah Rangsasa, maka Danghyang Dwijendra bersama keluarga juga berpamitan pada waga hendak melanjutkan perjalanan melalui darat, didalam hutan belukar yang luas (Jimbar Wana). Nah, sepeniggal maharsi dari tempat pertama kali berteduh, maka warga kemudian menenang jasa-jasanya dengan membangun tempat suci yang diberi nama Pura Gede Perancak.

Sumber Artikel : http://hindu-akuntansi-1i-undiksha.blogspot.co.id