Pura Penataran Agung Pucak Entapsai Bon

Oleh : Sejarah Bali | Dibaca : 58Pengunjung

Sumber Foto : https://panbelog.wordpress.com

Pura Pucak Bon merupakan salah satu pura yang ada di kawasan Petang, Badung Utara yang belum banyak dikenal umat. Pura ini diyakini sebagai sumber kemakmuran atau kekayaan

Pura Penataran Agung Pucak Entapsai Bon atau yang sering disebut Pura Pucak Bon terletak di dataran tinggi wilayah Desa Adat Bon, kedinasan Desa Belok, Kecamatan Petang, Badung.
 
Dari kota Denpasar berjalan ke lokasi menuju arah Utara melalui Desa Pelaga, hingga di Desa Adat Bon berjarak 59 km, dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat selama 1 jam 40 menit dengan kecepatan rata-rata 60 km/ jam tibalah di Pura Pucak Bon.
 
Karena Pura Pucak Bon sangat tinggi dan posisinya di sebuah puncak pegunungan, sehingga jika ada piodalan krama setempat cukup mengadakan upacara di Pura Penataran Agung yang ada di bawah. Jika ingin ke Pucak Pura diperlukan waktu paling lama sekitar 2 jam 30 menit, ini pun harus dengan jalan kaki. Pasalnya jalan menuju pucak belum ada jalan yang memadai dan hanya terdapat jalan setapak yang kanan-kirinya terdapat tebing yang sangat tinggi dan curam. Ketinggian pura diperkirakan mencapai 1.364 meter dari permukaan laut. Dalam perjalanan diingatkan agar krama pamedek berhati-hati, sebab medan jalan cukup berbahaya.
 
Biasanya para pamedek hanya tangkil di penataran saja, seperti dikatakan tadi untuk menuju pucak memerlukan perjalanan yang cukup lama dan melelahkan.
 
Menurut sejarahnya kata "Bon" berasal dari kata "bo" dan berkembang menjadi "Bon" yang artinya bau. Sejarah khusus yang menyangkut Pura Pucak Bon sampai saat ini belum ditemukan prasasti dan masih misteri.
 
Secara mitologi disebutkan dalam lontar Dwijendra Tattwa, dan di dalam Babad Mengwi Raja, disebutkan tentang berdirinya pura.
 
Sekitar tahun 1460 sampai 1550 Masehi, saat pemerintahan Dalem Waturenggong, yang berpusat di Gelgel Klungkung, disebutkan keadaan di Pulau Bali sangat subur dan aman, rukun dan hampir tidak pernah terjadi permasalahan yang berarti. Lantaran raja waktu itu tahu memerintah dengan swadharmanya yang baik sebagai seorang dalem.
 
Sekitar tahun 1489 atau Isaka 1411 datanglah ke Pulau Bali seorang purohito sastrawan dan rohaniwan yang berbhiseka Danghyang Dwijendra, pandita Hindu kelahiran Kediri, Jawa Timur. Pada waktu masih muda atau welaka beliau bernama Danghyang Nirartha setelah kawin dari seorang daha dari Jawa Timur serta "bernabe" dan "diniksa" mertua beliau di Daha, Danghyang Nirartha dianugrahi bhiseka kawikon Ida Danghyang Dwijendra. Dalam perjalanan beliau dari Jawa ke Bali telah berbagai pura berdiri yang berkaitan dengan perjalanan sucinya. Disebut sebagai pura yang ada kaitannya dengan pura itu adalah, Pura Pucak Tedung karena dalam perjalanan beliau dikatakan ketinggalan payung atau tedung sehingga pura tersebut dinamakan dengan Pura Pucak Tedung.
 
Pura Perancak yang ada di Jembrana dikatakan beliau ketinggalan sebuah pisau kecil yang disebut dengan temutik yang tangkainya dari les kayu ancak sehingga sebagai penghormatan berdirilah Pura Perancak. Dan juga mengapa babantenan sering menggunakan daun ancak. Demikian juga pura lainnya seperti Pura Puncak Mangu, Pura Pucak Pegametan, Pura Sekar Taji dan sebagainya.
 
Dalam kaitannya dengan Pura Pucak Bon, menurut sejarahnya. Di pura inilah Danghyang Dwijendra mengadakan pemujaan di pegunungan yang saat ini disebut dengan Pucak Bon, saat itu timbullah bau yang sangat harum.
 
Sehubungan dengan bau ini waktu beliau di Blambangan tercium bau harum pada lembar-lembar lontar yang ditulis atas permintaan istri raja Blambangan yang bernama Sri Aji Juru. Karena berbau harum beliau diduga memasang guna-guna dan hampir dibunuh. Sebagai penghormatan kesaktian beliau dan kesuciannya dengan adanya bau harum tersebut maka didirikan sebuah pura yang disebut dengan Pura Pucak Bon. Pemedek sering menyebut pura ini dengan Pura Pucak Entap Sai Bon.

Sumber Artikel : http://www.babadbali.com