Sejarah Pura Petitenget

Oleh : Sejarah Bali | Dibaca : 93Pengunjung

Sumber Foto : http://brendaagustina.blogspot.co.id

Dahulu kala diceritakan hutan di pesisir pantai petitenget dahulu, dihuni oleh raksasa yang merupakan pengawal dari Ida Bhatara Labuhan Mascet yang bernama I bhuta ijo.

Pada saat itu pedanda wawu rauh yaitu dhang hyang Dwijendra dalam perjalananya menuju pura luhur uluwatu untuk moksa bertemu dengan I bhuta dan memintanya untuk menjaga pecanangan (tempat sirih) milik beliau. I bhuta ijo kemudian diberi kekuatan oleh beliau untuk menjaga pecanangan tersebut.
 
Beliau pun meninggalkan pantai petitenget dan menuju ke tempat moksa beliau di pura uluwatu.
 
Tapi keberadaan I bhuta ijo membuat masyarakat resah, I bhuta ijo dengan ilmu kesaktianya membuat gerubug atau wabah penyakit bagi orang yang berani masuk ke daerah tempat pecanangan yang dijaganya. I bhuta ijo menganggap orang yang masuk ke daerah itu berniat inggin mencuri pecanangan dhang hyang Dwijendra.
 
Warga lalu meminta nangkil dan meminta petunjuk dhang hyang Dwijendra yang pada saat itu sedang bersemedi di pura luhur uluwatu, beliau mendengar keluh kesah warga dan memberikan petunjuk warga disarankan untuk membuat Palinggih Pasimpangan atau bangunan suci untuk stana Ida Bhatara Labuhan Masceti, dan pagedongan untuk stana I Bhuta Ijo pura tersebut dinamakan pura petitenget.
 
Dan juga persembahan berupa lelaban tiap Tilem Kawulu masarana sampi selem batu lengkap dengan ajeng-ajengan cacahan.
 
Setelah pembangunan pura ini keadaan pun mulai berubah, tempat tersebut sudah seperti sekarang tidak ada wabah penyakit ataupun raksasa yang menakutkan karena sudah di stanakan di pura petitenget.
 
Jika kita masuk kedalam pura, akan terdapat palinggih Gedong stana Dang Hyang Dwijendra, Meru Tumpang Lima linggih Ida Luhuring Dalem Solo, Majapahit dan Mekah. Juga terdapat palinggih Catu Meres, Catu Mujung, palinggih Padma Capah, Naga Gombang dan Padmasana.
 
Nama Pura petitenget diambil berdasarkan cerita di atas yang bermakna “Peti” berarti kotak yang dalam hal ini merupakan pecanangan dari dhang hyang dwijendra dan “tenget” yang berati angker bisa diambil kata yang bermakna peti yang angker. Dan kawasaan pantainya pun diberi nama pantai petitenget.

Sumber Artikel : http://colekpamor.blogspot.co.id