Sejarah Asal Muasal Desa Trunyan

Oleh : Sejarah Bali | Dibaca : 131Pengunjung

Sumber Foto : http://umathindu.blogspot.co.id

Cara pemakaman masyarakat Desa Trunyan yang unik ini tidak lepas dari sejarah berdirinya desa yang terletak di sebelah timur bibir Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali Utara tersebut. Dikisahkan, dahulu kala di Kerajaan Surakarta di pulau Jawa, tercium bau harum yang menarik perhatian 4 bersaudara, pangeran dan putri kerajaan Surakarta. Keempatnya pun kemudian mengembara untuk mencari sumber bunyi itu, mereka terdiri dari 3 orang pangeran dan satu orang putri.
 
Di tengah perjalanan, yakni di sebelah selatan Kaki Gunung Batur, sang Putri bungsu tertarik dengan tempat tersebut dan memutuskan untuk tinggal di sana. Keinginan itu pun disetujui oleh kakak-kakaknya. Selanjutnya sang Putri pindah ke lereng Gunung Batur sebelah timur, dan memiliki gelar Ratu Ayu Mas Marketeg.
 
Ketiga pangeran pun melajutkan perjalanan. Kemudian saat tiba di dataran bernama Kedisan, mereka mendengat suara burung yang sangat merdu. Mendengar suara burung ini, Pangeran ketiga merasa senang dan berteriak kegirangan. Hal ini ternyata tidak disukai oleh pangeran pertama. Maka diperintahkannya pangeran ketiga untuk berdiam diri di tempat tersebut. Ketika pangeran ketiga menolak, pangeran sulung marah dan menendangnya hingga jatuh dalam posisi duduk bersila dan berubah menjadi patung. Saat ini kita masih bisa menemukan Patung Batu Bathara Dewa dalam keadaan duduk bersila di wilayah Kedisan.
 
Setelah itu kedua pangeran yang tersisa pun terus melanjutkan perjalanan sampai ke sebuah dataran, di mana mereka bertemu dengan dua orang gadis cantik. Sang pangeran kedua pun kemudian menyapa keduanya, melihat hal ini, pangeran sulung kembali marah dan memerintahkannya untuk tinggal di tempat itu. Ketika kembali ditolak, sang pangeran sulung kemudian menyepak adiknya hingga jatuh tertelungkup dan kemudian ditinggalkan. Disebutkan sang adik kemudian menjadi kepala desa di tempat itu dan desa tersebut kemudian disebut dengan Desa Abang Dukuh. Kata Dukuh sendiri merupakan istilah dalam bahasa lokal yang berarti telungkup.
 
Setelah melanjutkan perjalanan seorang diri, sang Pangeran Sulung pun akhirnya menemukan pohon Taru Menyan yang merupakan sumber wangi tersebut. Di bawahnya ia melihat seorang Dewi yang sangat cantik jelita. Sang pangeran pun jatuh cinta dan berniat untuk melamar sang Dewi. Lamaran sang Pangeran pun diterima oleh kakak sang Dewi, dengan syarat sang Pangeran harus menjadi pemimpin desa tersebut.
 
Sang Pangeran pun diberi gelar Ratu Sakti Pancering Jagat, sementara istrinya diberi gelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Sejak itu, desa Trunyan pun berkembang menjadi satu kerajaan kecil. Kemudian untuk melindungi kerjaan dari orang luar yang datang karena tertarik dengan bau harum pohon Taru Menyan, Ratu Sakti Pancering Jagat memerintahkan penduduk untuk tidak menguburkan masyarakat yang meninggal, namun diletakkan saja di bawah pohon Taru Menyan hingga membusuk. Sejak saat itu pun, bau harum pohon tersebut sudah tidak tercium lagi, sedangkan jenazah-jenazah tersebut pun juga tidak mengeluarkan bau busuk. Dan tradisi pemakaman yang disebut dengan Mepasaha ini pun masih dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.

Sumber Artikel : http://www.dgspeak.com