Denpasar Kota Budaya

Oleh : sejarahbali | Dibaca : 625Pengunjung

Sumber Foto :

Mendapat julukan sebagai kota Budaya Denpasar berkewajiban menggalakkan kehidupan berkesenian. Dari bale banjar di dalam kota, seperti Tampakgangsul, Tenten, Alangkajeng sampai Wangaya dan Balun bisa kita dengar ada alunan gamelan pada hari tertentu.
 
Dan mereka yang begelut dan menekuni kesenian yang paling merakyat itu adalah anak-anak, kaum ibu dan para remaja. Pada hari tertentu walaupun bukan sedang merayakan hari ulang tahunnya, di lapangan Puputan Badung bisa kita saksikan atraksi dari berbagai sanggar yang mewakili setiap banjar.
 
“Anak saya ikut sanggar di Sesetan mewakili banjar Pegok, dalam beberapa bulan sekali tampil di panggung terbuka di Puputan Badung ini,” ungkap Kadek Candri, 35 tahun yang mengantar anaknya menari Jaran Teji di tempat itu.
 
Setiap hari minggu sore, lapangan yang menjadi paru-paru kota itu ramai oleh kehadiran pedagang balon, dagang lunpia dagang minuman dingin. Dan jangan lupa di panggung terbuka di bagian selatan lapangan atraksi tarian dan tabuh baik anak anak rema dan ibu-ibu selalu meramaikan suasana.
 
Mereka ditonton bukan saja oleh orang tua dan keluarga sang seniman cilik, tapi juga oleh ratusan pengunjung yang sekedar menghabiskan akhir pekannya di lapangan terbesar di Denpasar itu.
 
13340243961961074760“Untuk tampil tak perlu persyaratan khusus, cukup didaftarkan kepada pengelola kemudian berlatih yang tekun selama sebulan jadilah mereka mentas dengan kostum lengkap dengan iringan gamelan yang diputar lewat cd,” tutur Kadek Candri.
 
Yang mereka pentingkan adalah bisa tampil di depan khalayak penonton yang tidak hanya sekedar warga sekitar banjar atau tetangga di kampung. Mereka yang datang biasanya dari luar kota bahkan dari luar daerah.
 
“Kebanggaannya adalah ketika usai tampil mendapatan aplaus yang semarak dari ratusan penonton, anak saya jadi lebih bersemangat untuk tampil pada kesempatan mendatang,” tambahnya.
 
Di hari lainnya lagi, yang tampil bukan saja seniman cilik dengan tarian tradisional, tapi juga tarian dari daerah lain. Misalnya dari Bugis, Aceh dan juga Sunda, mereka biasanya tergabung dalam sanggar dari daerah masing-masing.
 
“Biasanya kalaupun yang tampil bukan penari daerah Bali penonton tetap saja meruah sampai berdesakan, ini yang membuat kami bangga itu artinya seni yang kami tampilkan bisa dinikmati dan diapresiasi dengan baik,” ungkap Ujang, 32 tahun yang mengantarkan anaknya menarikan tarian Manuk Dadali yang asli Bandung itu.
 
Bagi pengunjung pementasan mereka juga berkesempatan mengenal tarian dari daerah lain juga ragam budaya dari suku lain di nusantara tidak terpaku pada tarian Bali saja. Bahkan beberapa anak yang melihat tarian dari daerah lain berbondong-bondong mendaftar untuk ikutan dalam sanggar tertentu.
 
“Jadi lewat agenda melestarikan Budaya sebagai Kota Denpasar ini anak-anak di sini bisa menghargai juga kesenian dari daerah lainnya diluar Bali,” tutur Ujang. Maka tak pernah terjadi lapangan puputan Badung itu sepi dari kegiatan setiap hari minggunya. Ada saja sanggar yang tampil, dan penontonpun mengelu-elukan mereka seperti memberi semangat kepada seniman tulen yang tampil dengan gemerlap dan gegap gempita.
 
1334024344476477692“Dari tampil di tingkat lapangan, saya berharap anak anak itu suatu ketika bisa tampil di tempat yang lebih tinggi misalnya di pesta seni, atau jadi duta budaya keluar negeri, jadi jangan disepelekan sanggar yang tampil di lapangan ini,” ujar Kadek Candri.

Sumber Artikel : http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/10/denpasar-kota-budaya-448646.html