Asal usul

Kenapa, Kapan, dan di Mana Mebanten Saiban?

 Kamis, 03 April 2025

Kenapa, Kapan, dan di Mana Mebanten Saiban?

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sejarahbali.com, Badung - 

Pernahkah detikers mendengar istilah banten saiban atau ngejot? Ini adalah sebuah tradisi Hindu di Bali yang biasanya dilakukan setiap hari setelah selesai memasak makanan di pagi hari. Mebanten saiban atau mejotan juga disebut dengan yadnya sesa, yakni yadnya paling sederhana sebagai realisasi dari panca yadnya yang dilaksanakan umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, kapan, kenapa, dan di mana sebaiknya menghaturkan banten saiban? Berikut adalah informasi lengkap mengenai pelaksanaan banten saiban beserta maknanya.

Apa Itu Banten Saiban?
Mebanten saiban atau yang disebut juga dengan ngejot merupakan rutinitas dalam kehidupan umat Hindu Bali yang dilakukan setiap hari. Biasanya, mebanten saiban dilakukan setiap pagi hari seusai memasak. Tradisi ini juga dikenal sebagai yadnya sesa, wujud sederhana dari praktik Panca Yadnya yang menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu. Dalam pelaksanaannya, mebanten saiban dihaturkan setelah proses memasak selesai dan sebelum memulai menyantap hidangan.

Menurut kitab Bhagavadgita Sloka 3, XIII, terdapat kutipan sebagai berikut:

"Yajna sishtasinah santo mucnyante sarva kilbishail bhunjate te tu agham papa ye panchanty atma karanat"

Artinya: Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka memakan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indera-indera pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja.

Tradisi ini mengajarkan bahwa mebanten saiban merupakan bentuk persembahan paling sederhana dengan sarana yang juga sederhana. Biasanya, mebanten saiban disajikan menggunakan daun pisang yang diisi dengan nasi, garam, dan lauk pauk sesuai dengan menu yang dimasak pada hari itu. Tidak ada aturan khusus mengenai jenis lauk yang harus disajikan; pada dasarnya, apa yang dimasak pada hari itu akan dihaturkan sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta.

Kunci dari kesempurnaan yadnya sesa terletak pada penghaturan persembahan yang dilanjutkan dengan percikan air bersih dan dupa yang menyala, sebagai simbol kehadiran Sang Hyang Widhi. Namun, praktik yang lebih sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan percikan air atau dupa, karena esensi dari mebanten saiban adalah kesederhanaan.

Kapan Pelaksanaannya?
Terdapat lima tempat yang dihaturkan yadnya sesa sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta, berikut selengkapnya:

Makna dan Tujuan Mebanten Saiban
Tersirat nilai-nilai kesusilaan di balik setiap persembahan dalam mebanten saiban. Yadnya sesa atau mebanten saiban bukan sekadar serangkaian tindakan, melainkan sebuah perwujudan dari sikap anresangsya yang mengajarkan umat untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga kepentingan bersama. Prinsip ambeg para mertha, yang berarti mendahulukan kepentingan kolektif, menjadi landasan kuat dalam pelaksanaan mebanten saiban.

Mebanten saiban bukan hanya sebuah pelaksanaan ritual; ini lebih dari sekadar sebuah kewajiban. Melalui mebanten saiban, umat Hindu Bali memahami bahwa memberikan persembahan makanan setelah memasak merupakan bentuk penghormatan kepada makanan sebagai sumber kehidupan di dunia. Dalam setiap butiran nasi dan setiap helai sayur, terkandung makna mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Melalui mebanten saiban, umat Hindu Bali tidak hanya menyatakan rasa syukur, tetapi juga memperkokoh komitmen untuk hidup selaras dengan nilai-nilai kesusilaan yang luhur.

Penulis : TImLiputan

Editor : SejarahBali



Sejarah Bali Bali Sejarah Kenapa Mebanten Saiban Kapan Mebanten Saiban Di Mana Mebanten Saiban Mebanten Saiban Tradisi Bali Budaya Bali Ritual Bali Filosofi Mebanten Saiban Upacara Adat Bali Hindu Bali Sesajen Bali Adat Istiadat Bali Kearif


Tonton Juga :



Asal usul Lainnya :












TRENDING TERHANGAT