Histeria

Sejarah Perang Jagaraga 1848-1849: Penyebab, Kronologi, Dampak, dan Tokoh

 Sabtu, 05 April 2025

Sejarah Perang Jagaraga 1848-1849: Penyebab, Kronologi, Dampak, dan Tokoh

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sejarahbali.com, Buleleng - 

Perang Jagaraga adalah lambang patriotisme dan perlawanan gigih rakyat Bali terhadap penjajahan Belanda. Meskipun kalah, rakyat Bali yang ikut berjuang tetap dikenang sebagai pahlawan.

Perang Jagaraga merupakan salah satu perlawanan paling heroik dan panjang terhadap penjajahan Belanda di Bali. Meskipun kalah dalam perang kedua, semangat dan keberanian para prajurit Jagaraga, dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dan Jro Jempiring, tetap dikenang sebagai simbol patriotisme.

Kekalahan ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaksetaraan persenjataan, kurangnya pembinaan terhadap penduduk pesisir, dan keberhasilan Belanda dalam memecah strategi pertahanan. Namun, ketangguhan dan daya juang para prajurit Jagaraga mendapat pengakuan dari Belanda dan menjadi bagian penting dalam sejarah perlawanan rakyat Bali.

Untuk mengetahui bagaimana kronologi dan segala hal yang berkenaan dengan Perang Jagaraga, berikut penjelasannya yang dirangkum dari berbagai sumber. Yuk, disimak!

Penyebab
Perang Jagaraga yang terjadi pada 1848 hingga 1849 dipicu oleh ketidaktaatan Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made Karangasem, dan Maha Patih I Gusti Ketut Jelantik terhadap perjanjian perdamaian yang dihasilkan dari Perang Buleleng pada 1846. Isi perjanjian tersebut antara lain:

1. Kedua kerajaan harus mengakui kekuasaan Pemerintah Belanda dan mengakui Raja Belanda sebagai penguasa mereka.
2. Mereka tidak boleh membuat perjanjian dengan bangsa Eropa lainnya.
3. Selain itu, mereka harus segera menghapus peraturan Tawan Karang.
4. Kedua kerajaan juga diwajibkan membayar biaya perang sebesar 300.000 Gulden, dengan pembagian 2/3 dibebankan kepada Raja Buleleng dan 1/3 kepada Raja Karangasem, yang harus dilunasi dalam jangka waktu 10 tahun.

Kronologi
Setelah mengalami kekalahan dalam Perang Buleleng, I Gusti Ngurah Made Karangasem, dan I Gusti Ketut Jelantik memindahkan pusat Kerajaan Buleleng ke Desa Jagaraga. Pemindahan ini dilakukan karena Desa Jagaraga memiliki keunggulan strategis, seperti medan berbukit, banyaknya jurang untuk serangan mendadak, dan hanya satu jalan penghubung melalui Desa Sangsit yang memudahkan pengintaian.

Langkah-langkah Strategi Perang (1846-1848):
1. Menyusun benteng-benteng pertahanan di sekitar Jagaraga.
2. Melatih prajurit Buleleng dan Jagaraga dalam teknik dan taktik berperang.
3. Membangkitkan semangat juang masyarakat dengan memanfaatkan rumah-rumah penduduk sebagai tempat penyimpanan logistik perang.
4. Meminta bantuan kepada raja-raja di Bali, termasuk Raja Karangasem, Klungkung, Gianyar, Mengwi, dan Jembrana.
5. Menerapkan strategi perang 'Supit Surang' (Makara Wyuhana) yang diadaptasi dari cerita Bharata Yudha.
6. Memanfaatkan Pura Dalem Segara Madu Jagaraga sebagai markas komando.

Perang Jagaraga Pertama (8 Juni 1848)
Belanda melancarkan serangan melalui Pelabuhan Sangsit dengan kekuatan 22 kapal perang. Pasukan Belanda terbagi dalam empat divisi:

1. Divisi I dipimpin oleh Letkol Sutherland.
2. Divisi II dipimpin oleh Mayor Sorg.
3. Divisi III dipimpin oleh Letkol Bron De Vexela.
4. Divisi IV dipimpin oleh Mayor De Vos.

Namun, pasukan Jagaraga berhasil mengalahkan Belanda, menewaskan 250 serdadu. Faktor kemenangan termasuk:

1. Tingginya patriotisme prajurit Jagaraga.
2. Ketaatan terhadap perintah perang.
3. Serangan terpadu yang tangguh.
4. Penggunaan meriam tradisional (Bedil Bus).
5. Taktik perang yang efektif.
6. Kurangnya pengetahuan Belanda tentang medan Jagaraga.
7. Remehnya Belanda terhadap prajurit Jagaraga.
8. Situasi politik kacau di Belanda dan Eropa.

Perang Jagaraga Kedua (April 1849)
Belanda mempersiapkan serangan kedua dengan kekuatan 60 kapal perang dipimpin oleh Jenderal Michiels dan Letkol C.A. de Brauw. Mereka menggunakan mata-mata untuk mempelajari strategi perang Jagaraga.

Pada 14 April 1849, Belanda melancarkan serangan dari dua arah setelah mendarat di Pelabuhan Pabean dan Sangsit. I Gusti Ketut Jelantik mencoba berdamai, namun ditolak. Ketika kembali ke Jagaraga, benteng-benteng telah diserang habis-habisan. I Gusti Ketut Jelantik dan Raja Buleleng gugur dalam pertempuran mendadak di Desa Seraya.

Kekalahan dalam Perang Jagaraga kedua disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Ketidaksetaraan dalam persenjataan.
2. Kurangnya pembinaan terhadap penduduk pesisir yang berpotensi menjadi mata-mata Belanda.
3. Terpancingnya Patih Jelantik keluar dari benteng.
4. Kegagalan mengubah sistem pertahanan dan penyerangan.

5. Keberhasilan Belanda memecah pasukan I Gusti Ketut Jelantik.

Tokoh
1. I Gusti Ngurah Made Karangasem: Raja Buleleng yang memimpin perlawanan terhadap Belanda.
2. I Gusti Ketut Jelantik: Maha Patih yang berperan strategis dalam perang dan pertahanan Jagaraga.
3. Jro Jempiring: Pemimpin prajurit yang berperan penting dalam strategi perang dan mempertahankan Jagaraga hingga akhir.
4. Jenderal Michiels: Pemimpin pasukan Belanda dalam serangan kedua ke Jagaraga.
5. Letkol C.A. de Brauw: Pemimpin divisi Belanda yang melakukan serangan langsung ke benteng Jagaraga.
 

Penulis : TImLiputan

Editor : SejarahBali



Sejarah Bali Bali Sejarah Sejarah Perang Jagaraga Perang Jagaraga Perang Bali Sejarah Bali Perang Jagaraga 1848 Perang Jagaraga 1849 Kolonialisme Di Bali Perang Melawan Belanda Perjuangan Rakyat Bali Sejarah Nusantara Perang Di Nusantara Tok


Tonton Juga :













TRENDING TERHANGAT